Load balancing adalah konsep krusial dalam dunia komputasi terdistribusi. Saat infrastruktur TI menghadapi lonjakan lalu lintas, load balancing memastikan distribusi yang merata dan efisien di antara server-server yang ada.
Load Balancing adalah proses mendistribusikan beban kerja atau permintaan jaringan di antara beberapa server atau sumber daya. Tujuan utama dari Load Balancing adalah untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun server yang kelebihan beban, yang dapat menyebabkan penurunan kinerja atau bahkan kegagalan sistem.

Dengan mendistribusikan beban secara merata, Load Balancing membantu dalam meningkatkan kinerja aplikasi, mengurangi waktu respons, dan memastikan ketersediaan layanan yang tinggi.
Pentingnya Load Balancing dalam Infrastruktur TI
Dalam infrastruktur TI modern, Load Balancing sangat penting karena berbagai alasan:
- Skalabilitas: Dengan Load Balancing, sistem dapat menangani peningkatan beban kerja dengan menambahkan lebih banyak server atau sumber daya sesuai kebutuhan.
- Kinerja: Dengan mendistribusikan beban kerja secara merata, Load Balancing membantu mengurangi waktu respons dan meningkatkan kinerja aplikasi.
- Ketersediaan: Load Balancing memastikan bahwa jika salah satu server gagal, permintaan dapat dialihkan ke server lain, sehingga layanan tetap tersedia.
- Keandalan: Dengan mendistribusikan beban di antara beberapa server, risiko kegagalan sistem keseluruhan berkurang, meningkatkan keandalan keseluruhan sistem.
- Efisiensi Sumber Daya: Load Balancing membantu dalam penggunaan sumber daya yang lebih efisien dengan memastikan bahwa tidak ada server yang idle sementara yang lain kelebihan beban.
Apa itu Load Balancing?
Load balancing, seperti yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya, adalah sebuah teknik untuk mendistribusikan beban kerja antar beberapa server atau sumber daya. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa tidak ada satu server yang kelebihan beban, sehingga semua server dapat beroperasi dengan optimal dan memberikan respons yang cepat kepada pengguna.
Berikut adalah beberapa konsep dasar load balancing:
- Server: Komputer yang menyediakan layanan atau aplikasi kepada pengguna.
- Client: Perangkat yang meminta layanan atau aplikasi dari server.
- Permintaan: Tindakan yang dilakukan oleh client untuk meminta layanan atau aplikasi dari server.
- Beban kerja: Jumlah permintaan yang harus diproses oleh server.
- Load balancer: Perangkat lunak atau perangkat keras yang mendistribusikan permintaan antar server.
Bagaimana Load Balancing Bekerja
Load Balancer adalah komponen utama yang mengelola distribusi beban kerja. Load Balancer dapat berupa perangkat keras atau perangkat lunak yang terletak di antara klien dan server. Berikut adalah cara kerja dasar Load Balancer:
- Menerima Permintaan: Load Balancer menerima permintaan dari klien yang mencoba mengakses aplikasi atau layanan.
- Menganalisis Permintaan: Load Balancer menganalisis permintaan tersebut dan menentukan server mana yang paling cocok untuk menangani permintaan tersebut berdasarkan algoritma tertentu.
- Mendistribusikan Permintaan: Load Balancer mengarahkan permintaan ke server yang dipilih, memastikan bahwa beban kerja didistribusikan secara merata di antara semua server yang tersedia.
- Monitoring dan Penyesuaian: Load Balancer terus memonitor kinerja dan status setiap server. Jika salah satu server mengalami kegagalan atau kelebihan beban, Load Balancer dapat menyesuaikan distribusi beban kerja untuk memastikan kinerja yang optimal.
Tipe-Tipe Load Balancing
Load Balancing Hardware vs Software
Load Balancing Hardware
Load Balancing Hardware adalah perangkat fisik yang dirancang khusus untuk mendistribusikan beban kerja di jaringan. Perangkat ini biasanya ditempatkan di antara router dan server, dan dapat menangani sejumlah besar permintaan dengan cepat dan efisien. Beberapa fitur dan keuntungan dari Load Balancing Hardware meliputi:
- Kinerja Tinggi: Perangkat keras khusus ini mampu menangani volume lalu lintas yang sangat besar dengan latensi rendah.
- Keandalan: Karena merupakan perangkat fisik yang didedikasikan untuk load balancing, biasanya lebih stabil dan dapat diandalkan dibandingkan solusi berbasis perangkat lunak.
- Keamanan: Beberapa perangkat keras load balancing juga dilengkapi dengan fitur keamanan tambahan seperti firewall dan pencegahan serangan DDoS.
- Manajemen Terpusat: Perangkat keras biasanya dilengkapi dengan antarmuka manajemen yang memungkinkan pengelolaan yang lebih mudah dan terpusat.
Namun, Load Balancing Hardware juga memiliki beberapa kekurangan:
- Biaya Tinggi: Perangkat keras khusus bisa sangat mahal, baik dalam hal pembelian awal maupun pemeliharaan.
- Skalabilitas Terbatas: Menambah kapasitas seringkali memerlukan pembelian perangkat baru, yang bisa menjadi tidak efisien seiring pertumbuhan kebutuhan.
Load Balancing Software
Load Balancing Software adalah solusi perangkat lunak yang diinstal pada server atau mesin virtual untuk mendistribusikan beban kerja. Beberapa fitur dan keuntungan dari Load Balancing Software meliputi:
- Fleksibilitas: Solusi perangkat lunak dapat diinstal pada berbagai jenis perangkat keras dan dapat dengan mudah dikonfigurasi sesuai kebutuhan.
- Biaya Lebih Rendah: Biasanya lebih murah dibandingkan perangkat keras khusus, karena tidak memerlukan investasi besar dalam perangkat fisik.
- Skalabilitas: Lebih mudah untuk menambah kapasitas dengan menambah instansi perangkat lunak baru pada server yang ada atau mesin virtual.
Namun, Load Balancing Software juga memiliki beberapa kekurangan:
- Kinerja Lebih Rendah: Biasanya tidak secepat perangkat keras khusus, terutama dalam menangani volume lalu lintas yang sangat besar.
- Keandalan: Bergantung pada perangkat keras tempat perangkat lunak diinstal, yang mungkin tidak setangguh perangkat keras khusus.
Load Balancing Stateless vs Stateful
Load Balancing Stateless
Load Balancing Stateless adalah pendekatan di mana Load Balancer tidak menyimpan informasi tentang status sesi pengguna. Setiap permintaan yang masuk diperlakukan secara independen, tanpa memperhitungkan permintaan sebelumnya dari pengguna yang sama. Beberapa keuntungan dan kerugian dari Load Balancing Stateless adalah:
Keuntungan:
- Kesederhanaan: Implementasi lebih sederhana karena tidak perlu melacak status sesi.
- Skalabilitas: Lebih mudah diskalakan karena setiap permintaan diperlakukan secara independen.
- Toleransi Kegagalan: Jika Load Balancer gagal, permintaan dapat dengan mudah diarahkan ke Load Balancer lain tanpa mempengaruhi sesi pengguna.
Kerugian:
- Konsistensi Sesi: Kesulitan dalam menjaga konsistensi sesi pengguna, yang penting untuk aplikasi yang memerlukan data sesi yang berkelanjutan.
- Pengelolaan Sesi: Memerlukan teknik tambahan untuk mengelola sesi pengguna, seperti penyimpanan sesi di server atau menggunakan cookies.
Load Balancing Stateful
Load Balancing Stateful adalah pendekatan di mana Load Balancer menyimpan informasi tentang status sesi pengguna. Setiap permintaan dari pengguna yang sama diarahkan ke server yang sama untuk menjaga konsistensi sesi. Beberapa keuntungan dan kerugian dari Load Balancing Stateful adalah:
Keuntungan:
- Konsistensi Sesi: Memastikan permintaan dari pengguna yang sama selalu diarahkan ke server yang sama, menjaga data sesi yang konsisten.
- Pengalaman Pengguna: Meningkatkan pengalaman pengguna dengan menjaga sesi yang berkelanjutan dan konsisten.
Kerugian:
- Kompleksitas: Implementasi lebih kompleks karena memerlukan pelacakan dan penyimpanan status sesi.
- Skalabilitas Terbatas: Lebih sulit untuk diskalakan karena ketergantungan pada status sesi.
- Toleransi Kegagalan: Jika Load Balancer atau server yang menyimpan status sesi gagal, sesi pengguna dapat terganggu atau hilang.
Teknik-Teknik Load Balancing
Pada bagian ini, kita akan membahas beberapa teknik load balancing yang umum digunakan, beserta cara kerja, kelebihan, kekurangan, dan contoh penerapannya.
1. Round Robin
Round robin adalah teknik load balancing yang paling sederhana. Teknik ini mendistribusikan permintaan secara bergantian ke semua server yang tersedia, tanpa mempertimbangkan faktor lain seperti beban kerja server saat ini atau waktu respons server.
Cara Kerja:
- Load balancer menerima permintaan dari client.
- Load balancer memilih server berikutnya dalam daftar secara berurutan.
- Load balancer mengirimkan permintaan ke server yang dipilih.
- Server memproses permintaan dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Sederhana dan mudah diimplementasikan.
- Adil untuk semua server.
Kekurangan:
- Tidak mempertimbangkan beban kerja server saat ini atau waktu respons server.
- Server yang lebih lemah dapat kelebihan beban jika ada server lain yang lebih kuat.
Contoh Penerapan:
- Website dengan traffic yang statis dan dapat diprediksi.
- Aplikasi web sederhana dengan beban kerja yang seimbang antar server.
2. Least Connections
Least connections adalah teknik load balancing yang memilih server dengan jumlah koneksi terendah untuk menangani permintaan baru. Teknik ini bertujuan untuk mendistribusikan beban kerja secara merata dan menghindari kelebihan beban pada server tertentu.
Cara Kerja:
- Load balancer menerima permintaan dari client.
- Load balancer memilih server dengan jumlah koneksi terendah.
- Load balancer mengirimkan permintaan ke server yang dipilih.
- Server memproses permintaan dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Mendistribusikan beban kerja secara merata antar server.
- Menghindari kelebihan beban pada server tertentu.
Kekurangan:
- Server yang baru saja menyelesaikan banyak permintaan mungkin masih memiliki sumber daya yang lebih sedikit dibandingkan server lain, meskipun jumlah koneksinya lebih sedikit.
- Tidak mempertimbangkan waktu respons server.
Contoh Penerapan:
- Aplikasi web dengan beban kerja yang dinamis dan tidak dapat diprediksi.
- Aplikasi yang sensitif terhadap waktu respons, seperti aplikasi VoIP atau game online.
3. IP Hash
IP hash adalah teknik load balancing yang menggunakan hash dari alamat IP client untuk memilih server. Teknik ini memastikan bahwa semua permintaan dari client yang sama selalu diarahkan ke server yang sama, sehingga dapat meningkatkan performa dan stabilitas koneksi.
Cara Kerja:
- Load balancer menerima permintaan dari client.
- Load balancer menghitung hash dari alamat IP client.
- Load balancer memilih server berdasarkan nilai hash.
- Load balancer mengirimkan permintaan ke server yang dipilih.
- Server memproses permintaan dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Memastikan bahwa semua permintaan dari client yang sama selalu diarahkan ke server yang sama.
- Meningkatkan performa dan stabilitas koneksi.
- Mudah diimplementasikan.
Kekurangan:
- Jika server yang dipilih gagal, semua permintaan dari client yang sama akan gagal.
- Tidak mempertimbangkan beban kerja server saat ini atau waktu respons server.
Contoh Penerapan:
- Aplikasi web dengan banyak pengguna yang sering melakukan login dan logout.
- Aplikasi web yang menggunakan cookie untuk menyimpan data sesi.
4. Least Response Time
Least response time adalah teknik load balancing yang memilih server dengan waktu respons terpendek untuk menangani permintaan baru. Teknik ini bertujuan untuk memberikan pengalaman pengguna yang terbaik dengan meminimalkan waktu tunggu.
Cara Kerja:
- Load balancer secara berkala mengukur waktu respons setiap server.
- Load balancer menerima permintaan dari client.
- Load balancer memilih server dengan waktu respons terpendek.
- Load balancer mengirimkan permintaan ke server yang dipilih.
- Server memproses permintaan dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Memberikan pengalaman pengguna yang terbaik dengan meminimalkan waktu tunggu.
- Cocok untuk aplikasi yang sensitif terhadap waktu respons.
Kekurangan:
- Membutuhkan pengukuran waktu respons server secara berkala, yang dapat meningkatkan overhead.
- Server yang baru saja menyelesaikan banyak permintaan mungkin masih memiliki waktu respons yang lebih lambat, meskipun sebenarnya memiliki sumber daya yang lebih banyak.
Contoh Penerapan:
- Aplikasi web yang real-time, seperti aplikasi trading atau game online.
- Aplikasi web yang kritis terhadap performa, seperti website e-commerce.
5. Weighted Round Robin
Weighted round robin adalah teknik load balancing yang menggabungkan teknik round robin dengan bobot untuk setiap server. Bobot ini dapat ditentukan berdasarkan berbagai faktor, seperti kapasitas server, performa server, atau jenis layanan yang disediakan oleh server.
Cara Kerja:
- Load balancer menerima permintaan dari client.
- Load balancer memilih server berikutnya dalam daftar secara berurutan, dengan mempertimbangkan bobot setiap server.
- Load balancer mengirimkan permintaan ke server yang dipilih.
- Server memproses permintaan dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Mendistribusikan beban kerja secara merata antar server dengan mempertimbangkan kapasitas dan performa server.
- Mudah diimplementasikan dan dikonfigurasi.
Kekurangan:
- Membutuhkan penentuan bobot yang tepat untuk setiap server.
- Tidak mempertimbangkan waktu respons server.
Contoh Penerapan:
- Aplikasi web dengan server yang memiliki kapasitas dan performa yang berbeda-beda.
- Aplikasi web dengan jenis layanan yang berbeda-beda, seperti server web statis dan server web dinamis.
6. Weighted Least Connections
Weighted least connections adalah teknik load balancing yang menggabungkan teknik least connections dengan bobot untuk setiap server. Bobot ini dapat ditentukan berdasarkan berbagai faktor, seperti kapasitas server, performa server, atau jenis layanan yang disediakan oleh server.
Cara Kerja:
- Load balancer menerima permintaan dari client.
- Load balancer memilih server dengan rasio koneksi terendah terhadap bobotnya.
- Load balancer mengirimkan permintaan ke server yang dipilih.
- Server memproses permintaan dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Mendistribusikan beban kerja secara merata antar server dengan mempertimbangkan kapasitas, performa, dan beban kerja server saat ini.
- Menghindari kelebihan beban pada server tertentu.
Kekurangan:
- Membutuhkan penentuan bobot yang tepat untuk setiap server.
- Kompleksitasnya lebih tinggi dibandingkan teknik least connections.
Contoh Penerapan:
- Aplikasi web dengan server yang memiliki kapasitas dan performa yang berbeda-beda, dan beban kerja yang dinamis.
- Aplikasi web dengan jenis layanan yang berbeda-beda, seperti server web statis dan server web dinamis.
7. Source IP Hash
Source IP hash adalah teknik load balancing yang menggunakan hash dari alamat IP client dan bobot server untuk memilih server. Teknik ini memastikan bahwa semua permintaan dari client yang sama selalu diarahkan ke server yang sama, dengan mempertimbangkan kapasitas server.
Cara Kerja:
- Load balancer menerima permintaan dari client.
- Load balancer menghitung hash dari alamat IP client dan bobot server.
- Load balancer memilih server berdasarkan nilai hash dan bobot server.
- Load balancer mengirimkan permintaan ke server yang dipilih.
- Server memproses permintaan dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Memastikan bahwa semua permintaan dari client yang sama selalu diarahkan ke server yang sama.
- Meningkatkan performa dan stabilitas koneksi.
- Mendistribusikan beban kerja secara merata antar server dengan mempertimbangkan kapasitas server.
Kekurangan:
- Jika server yang dipilih gagal, semua permintaan dari client yang sama akan gagal.
- Kompleksitasnya lebih tinggi dibandingkan teknik IP hash.
Contoh Penerapan:
- Aplikasi web dengan banyak pengguna yang sering melakukan login dan logout.
- Aplikasi web yang menggunakan cookie untuk menyimpan data sesi.
- Aplikasi web dengan server yang memiliki kapasitas yang berbeda-beda.
8. URL Hash
URL hash adalah teknik load balancing yang menggunakan hash dari URL request untuk memilih server. Teknik ini memastikan bahwa semua request untuk URL yang sama selalu diarahkan ke server yang sama, sehingga dapat meningkatkan performa dan stabilitas caching.
Cara Kerja:
- Load balancer menerima request dari client.
- Load balancer menghitung hash dari URL request.
- Load balancer memilih server berdasarkan nilai hash.
- Load balancer mengirimkan request ke server yang dipilih.
- Server memproses request dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Memastikan bahwa semua request untuk URL yang sama selalu diarahkan ke server yang sama.
- Meningkatkan performa dan stabilitas caching.
- Mudah diimplementasikan.
Kekurangan:
- Jika server yang dipilih gagal, semua request untuk URL yang sama akan gagal.
- Tidak mempertimbangkan beban kerja server saat ini atau waktu respons server.
Contoh Penerapan:
- Aplikasi web dengan banyak konten statis, seperti gambar, video, dan file JavaScript.
- Aplikasi web yang menggunakan caching untuk mempercepat waktu loading halaman.
- Aplikasi web dengan CDN (Content Delivery Network) yang terintegrasi.
9. Global Server Load Balancing (GSLB)
Global Server Load Balancing (GSLB) adalah teknik load balancing yang mendistribusikan beban kerja antar server yang terletak di berbagai lokasi geografis. Teknik ini bertujuan untuk meningkatkan performa dan ketersediaan aplikasi web bagi pengguna di seluruh dunia dengan meminimalkan latensi dan memaksimalkan throughput.
Cara Kerja:
- GSLB menerima request dari client.
- GSLB menentukan lokasi geografis client.
- GSLB memilih server yang paling dekat dengan lokasi geografis client berdasarkan berbagai faktor, seperti latensi, bandwidth, dan beban kerja server.
- GSLB mengirimkan request ke server yang dipilih.
- Server memproses request dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Meningkatkan performa dan ketersediaan aplikasi web bagi pengguna di seluruh dunia.
- Meminimalkan latensi dan memaksimalkan throughput.
- Meningkatkan pengalaman pengguna dengan meminimalkan waktu loading halaman.
Kekurangan:
- Kompleksitasnya lebih tinggi dibandingkan teknik load balancing tradisional.
- Membutuhkan infrastruktur dan konfigurasi yang lebih kompleks.
- Biaya implementasi dan operasinya lebih tinggi.
Contoh Penerapan:
- Perusahaan multinasional dengan website dan aplikasi web yang digunakan oleh pengguna di seluruh dunia.
- Penyedia layanan streaming video dengan CDN yang terintegrasi.
- Platform e-commerce global dengan traffic dari berbagai negara.
10. Random with Two Choices
Random with Two Choices adalah teknik load balancing yang memilih server secara acak dari dua server yang tersedia. Teknik ini sederhana dan mudah diimplementasikan, namun kurang optimal dibandingkan teknik lain.
Cara Kerja:
- Load balancer menerima request dari client.
- Load balancer memilih salah satu dari dua server yang tersedia secara acak.
- Load balancer mengirimkan request ke server yang dipilih.
- Server memproses request dan mengirimkan respons kepada client.
Kelebihan:
- Sederhana dan mudah diimplementasikan.
- Tidak memerlukan konfigurasi yang kompleks.
Kekurangan:
- Kurang optimal dibandingkan teknik lain.
- Tidak mempertimbangkan beban kerja server saat ini atau waktu respons server.
- Kemungkinan salah satu server kelebihan beban lebih tinggi.
Contoh Penerapan:
- Aplikasi web dengan traffic yang rendah dan statis.
- Website sederhana dengan beban kerja yang seimbang.
- Skenario pengujian atau pengembangan.
Studi Kasus Penerapan Teknik Load Balancing
Studi Kasus 1: E-Commerce Besar
Latar Belakang: Sebuah perusahaan e-commerce besar menghadapi tantangan dalam menangani lonjakan lalu lintas selama musim liburan. Lonjakan ini menyebabkan server sering kelebihan beban, mengakibatkan waktu respons yang lama dan pengalaman pengguna yang buruk.
Solusi: Perusahaan memutuskan untuk mengimplementasikan Load Balancing dengan menggunakan kombinasi Least Connections dan Weighted Round Robin.
- Least Connections digunakan untuk menangani lalu lintas harian reguler, memastikan bahwa permintaan diarahkan ke server yang memiliki koneksi aktif paling sedikit. Ini membantu dalam mendistribusikan beban kerja secara merata selama periode normal.
- Weighted Round Robin digunakan selama lonjakan lalu lintas musim liburan, di mana server dengan kapasitas lebih tinggi diberi bobot lebih besar untuk menerima lebih banyak permintaan.
Hasil: Dengan menggunakan kedua teknik ini, perusahaan dapat menangani lonjakan lalu lintas tanpa masalah, meningkatkan waktu respons dan menjaga pengalaman pengguna yang baik. Penjualan selama musim liburan meningkat secara signifikan karena situs web yang stabil dan responsif.
Studi Kasus 2: Penyedia Layanan Streaming
Latar Belakang: Penyedia layanan streaming video menghadapi tantangan dalam memberikan pengalaman pengguna yang konsisten karena variasi besar dalam ukuran transaksi dan waktu pemrosesan.
Solusi: Perusahaan mengimplementasikan Load Balancing menggunakan Least Response Time.
- Least Response Time memastikan bahwa permintaan video diarahkan ke server yang memiliki waktu respons terendah pada saat permintaan diterima. Ini membantu dalam mengurangi latensi dan memastikan pengalaman menonton yang lancar bagi pengguna.
Hasil: Dengan mengarahkan permintaan ke server yang paling responsif, perusahaan dapat meningkatkan kualitas streaming dan mengurangi buffering. Ini meningkatkan kepuasan pelanggan dan menurunkan tingkat churn.
Contoh Nyata dari Perusahaan yang Menggunakan Load Balancing
1. Amazon Web Services (AWS)
AWS adalah salah satu penyedia layanan cloud terbesar di dunia yang menggunakan berbagai teknik Load Balancing untuk mengelola infrastruktur mereka yang luas. AWS menawarkan layanan seperti Elastic Load Balancing (ELB) yang dapat mendistribusikan lalu lintas aplikasi di beberapa instansi Amazon EC2. Teknik Round Robin, Least Connections, dan IP Hash adalah beberapa algoritma yang dapat dipilih oleh pengguna AWS untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Manfaat: AWS menggunakan Load Balancing untuk memastikan ketersediaan tinggi, kinerja optimal, dan skalabilitas yang mudah bagi aplikasi yang berjalan di cloud mereka.
2. Google Cloud Platform (GCP)
Google Cloud Platform menggunakan Load Balancing untuk mendistribusikan beban kerja di pusat data mereka yang tersebar di seluruh dunia. GCP menawarkan Global Load Balancing yang dapat mendistribusikan lalu lintas ke beberapa region berdasarkan berbagai faktor seperti latency dan geographic proximity.
Manfaat: Dengan menggunakan Global Load Balancing, GCP memastikan bahwa pengguna dapat mengakses layanan dengan latensi rendah dan ketersediaan tinggi, terlepas dari lokasi geografis mereka.
3. Netflix
Netflix, sebagai salah satu layanan streaming terbesar di dunia, sangat bergantung pada Load Balancing untuk memberikan pengalaman streaming yang mulus kepada jutaan pelanggannya. Netflix menggunakan berbagai teknik Load Balancing termasuk Least Connections dan Least Response Time untuk memastikan bahwa permintaan pengguna diarahkan ke server yang paling sesuai.
Manfaat: Dengan Load Balancing, Netflix dapat memastikan kualitas streaming yang tinggi, mengurangi buffering, dan menyediakan pengalaman menonton yang konsisten di seluruh platform.
4. Facebook
Facebook menggunakan Load Balancing untuk mengelola lalu lintas yang sangat besar dari miliaran pengguna aktif harian. Dengan mengimplementasikan Load Balancing, Facebook dapat mendistribusikan permintaan pengguna ke berbagai pusat data dan server, memastikan bahwa platform tetap responsif dan dapat diakses.
Manfaat: Load Balancing membantu Facebook dalam mengelola lalu lintas yang tinggi, meningkatkan waktu respons, dan menjaga ketersediaan platform meskipun ada lonjakan permintaan yang tiba-tiba.
Kesimpulan
Pemilihan teknik load balancing yang tepat tergantung pada kebutuhan dan karakteristik infrastruktur Anda. Pertimbangkan faktor-faktor seperti jenis aplikasi, traffic, lokasi pengguna, dan anggaran Anda saat memilih teknik yang tepat.
Dengan memahami dan menerapkan teknik Load Balancing yang tepat, serta mengoptimalkan penggunaannya, organisasi dapat memastikan bahwa aplikasi dan layanan mereka berjalan dengan kinerja optimal, tetap tersedia bagi pengguna, dan dapat dengan mudah menangani peningkatan beban kerja tanpa mengalami penurunan kinerja atau kegagalan sistem.

